Sabtu, 16 Maret 2013

O.K.T atau Oey Kim Tiang atau Boe Beng Tjoe atau Aulia


OKT (Oey Kim Tiang) lahir di Tangerang pada tahun 1903 di Tangerang dan meninggal pada tahun 1995.

Ayahnya adalah seorang mandor kebun kelapa, ia mendapatkan pendidikan dasarnya di Tangerang, lalu melanjutkan pendidikannya ke sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), disana ia belajar bahasa Mandarin dan sejarah Tiongkok tetapi hanya mampu melanjutkan sekolahnya sampai ketingkat SMP. OKT pernah berkerja sebagai jurnalistik pada koran Perniagaan, dan kemudian pindah ke koran Keng Po yang baru saja berdiri pada tahun 1923. Ia berkerja dengan setia pada koran Keng Po dan bertahan disana sampai koran itu terhenti penerbitannya pada tahun 1958.

Ia dianggap sebagai salah satu orang yang berperan menyebarkan dan mempopulerkan kesusasteraan Melayu Tionghoa, karena penguasan bahasa “Melayu Tonghoa” (atau disebut juga sebagai Melayu Betawi) ini pernah mendapatkan pujian dari sastrawan Sutan Takdir Alisyahbana dan Ajip Rosidi.
Selama hidupnya, OKT diperkirakan telah menerjemahkan sekitar 100 buah buku silat, dari pengarang-pengarang ternama seperti Chin Yung, Liang Ie-Shen, Wang Du Lu dll. Karya-karya terjemahan cerita silatnya yang populer antara lain adalah Kim Coa Kiam (Pedang Ular Emas), Giok Lo Sat (Wanita Gagah Perkasa), Yoe Hiap Eng Hiong (Pertentangan Kaum Persilatan), Hiap Kek Heng (Kisah Para Pendekar), Su Kiam In Lu Kiu Lok (Puteri Harum dan Kaisar), Tiat Kie Gin Pan, Go Houw Tjong Liong, dll.
Ada anggapan bahwa “Aulia” adalah nama lain atau nama pena dari OKT , padahal Aulia adalah nama cucu pertamanya yang digunakan OKT sebagai nama samarannya (pseudo-name) , ketika ia menulis untuk penerbit diluar Keng-Po. Nama Aulia hanya dipakai OKT ketika menerjemahkan “Sin Tiauw Eng Hiong saja. Pseudo-name lainnya adalah “Chandra” ketika OKT mener

Boe Beng Tjoe

Ada anggapan bahwa OKT bersama dengan Boe Beng Tjoe yang dianggap sebagai nama samaran Oey An Siok. Tidak sepenuhnya tepat untuk mengatakan nama “Boe Beng Tjoe” adalah ‘nama  samaran’ Oey An Siok. Nama “Boe Beng Tjoe” (dalam bahasa Hokkian, yang berarti “si tanpa nama”) sebenarnya berawal sebagai nama samaran (pseudo-name) OKT sendiri, yaitu untuk karya-karya terjemahan yang almarhum kerjakan bukan untuk penerbit KengPo, misalnya untuk penerbit-penerbit Kisah Silat, Mekar Djaja, Marga Raya, dll. Karena sebagai karyawan tetap Keng Po, almarhum merasa tidak etis apabila ia menulis untuk pihak lain dengan memakai ‘trade-mark’ yang masyarakat mengenalnya sebagai orang Keng Po. Judul cersil yang diterjemahkan OKT dengan nama “Boe Beng Tjoe” a.l. adalah  “Sin Tjioe Eng Hiap”.
Kemudian nama “Boe Beng Tjoe” juga dipergunakan sebagai pseudo-name dari kerjasama (kolaborasi) antara OKT dengan sepupunya Oey An Siok. Ini berawal dari sakitnya OKT ketika sedang menerjemahkan suatu naskah, padahal ‘the show must go on’, dan An Siok bersedia menggantikan sepupunya sementara dia sakit. Ketika OKT sudah sembuh, ternyata kerjasama itu dilanjutkan beberapa kali lagi. Judul cersil yang diterjemahkan OKT bersama Oey An Siok dengan nama “Boe Beng Tjoe” a.l. adalah “Sin Tiauw Hiap Lu”, “Ie Thian To Liong (To Liong Too)”, Hoei Ho Gwa Toan”.
Tetapi nama “Boe Beng Tjoe” juga pernah dipergunakan oleh Oey An Siok
sendiri, tanpa berkolaborasi dengan OKT (walau dengan sepengetahuan, bahkan blessing-nya), untuk beberapa judul cersil. Judul cersil yang diterjemahkan Oey An Siok sendirian dengan nama “Boe Beng Tjoe” a.l. adalah “San Hoa Lie Hiap”.

Catatan lain bahwa untuk menulis di KengPo, Oey Kim Tiang selain memakai pen-name “OKT”, juga pernah memakai nama-nama “KT”, “Huang”, “CC Huang” dan “CH”. Perlu dikemukakan juga bahwa untuk KengPo, OKT bukan hanya menulis cersil.  OKT juga banyak menerjemahkan karya klasik Tiongkok , seperti “See Yoe”  (menurut saya ini terjemahan See Yoe yang terbaik). Serta membuat narasi  komik, seperti “Sie Djin Koei” yang dilukis oleh Siauw Tik Kwie. Tetapi alur cerita dan narasi text-nya dibuat oleh OKT. Dan juga  menerjemahkan cerita detektif, seperti serial “Oey Eng – Si Burung Kenari”.
Buku-buku silat karangan OKT populer pada tahun 1950-an sampai tahun 1980-an. Ada juga karya OKT yang populer di tahun 1990-an, yaitu “Kaki Tiga Menjangan  (Lu Ding Ji)”. 



http://web.budaya-tionghoa.net/tokoh-a-diaspora/tokoh-tionghoa/1723-oey-kim-tiang-1903-1995-


Golden Horde , Akhmad Bukhari Saleh
Mailing-List Budaya Tionghua , November 2006
Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa